+44(0) 1234 567 890 info@domainname.com

Rabu, 20 Februari 2013

Potensi Batu Akik Pacitan


Potensi daerah Pacitan adalah Kerajinan batu akik yang terpusat di kawasan Donorojo, sedikit banyak telah menyumbang pendapatan asli daerah dengan  nilai penting bagi Pacitan. Mengingat, daerah Pacitan kaya dengan aneka bebatuan yang tidak hanya elok dipandang dalam bentuknya sebagai obyek wisata–kars, misalnya tetapi juga untuk diolah sebagai cinderamata bernilai seni. Oleh karena itu, apabila Anda menjejakkan kaki di Pacitan untuk berbagai tujuan, seperti perjalanan dinas atau rekreasi, kiranya kurang lengkap jika tidak membeli souvenir batu akik untuk dipakai sendiri maupun sebagai oleh-oleh. Di Desa Sukodono dan Gendaran, keduanya di Kecamatan Donorojo, bisa dijumpai sederetan perajin memajang pelbagai hasil kerajinan batu akik: batu mulia, kecubung, asihan, yaman serat mas, akik srowot, nogosuwi, dan lain-lain.
Ketika berkunjung ke Pacitan di desa Widoro, Kecamatan Pacitan, banyak pemuda pengrajin batu akik. Mereka kreatif membuat batu akik di hiasi emas dan perak. pengikat atau tatakan. ‘’Dengan batu mulia, dihiasi emas dan perak akan terlihat cantik dan banyak disukai para pembeli,’’ ujar Agung.  Ia setia dengan batu mulia jenis tersebut memiliki ciri khas yang unik, sehingga hasil olah kreativitas pada setiap biji batu juga akan sangat memengaruhi harga jualnya.
Agung berharap mengolah batu akik, ini bisa mengilhami pemberdayaan pemuda di daerahnya. Oleh karena itu, diperlukan perhatian pemerintah daerah kepada para perajin batu akik dengan, misalnya, memberikan berbagai pelatihan untuk mengembangkan kreasi produk kerajinan.
No comments

Upacara Mantu Kucing


Upacara adat “Mantu Kucing” merupakan upacara adat untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar menurunkan hujan di daerah orang-orang yang mengadakan upacara tersebut. Upacara ini diadakan bila tiba musim kemarau yang berkepanjangan dan berdampak negative terhadap warga masyarakat yang masih agraris.

                Upacara adat ini diangkat dari tradisi masyarakat desa Purworejo, Kecamatan Pacitan, Pacitan. Kejadian masa silam (tidak disebutkan tahun kejadian) dikisahkan seorang warga desa yang memperoleh “wisik” (petunjuk dari Allah) agar turun hujan, maka mereka melaksanakan upacara “Mantu Kucing”. Waktu itu para sesepuh musyawarah untuk melaksanakan upacara “Mantu Kucing”.
 
                Istilah “Mantu Kucing” tiada ubahnya seperti orang mengadakan upacara pernikaan dua anak manusia. Hanya khusus dalam keperluan ini yang dinikahkan adalah dua ekor kucing. Kucing betina berasal dari desa Purworejo, dan kucing jantan diambil dari desa tetangga yang bersebelahan yakni desa Arjowinangun. Upacara ini secara tradisional diadakan di tepi sebuah aliran sungai, tempat kucing betina yang dinikahkan dipelihara. Upacara “Mantu Kucing” ini ditradisikan di Pacitan, dalam satu kegiatan untuk meminta hujan kepada Tuhan pencipta langit dan bumi. Upacara ini diadakan bila wilayah tersebut dilanda musim kemarau yang berkepanjangan.
 
                Kisah di atas menyerupai upacara adat di kerajaan Yunani Purba, yakni sewaktu kemarau panjang rakyatnya mengadakan upacara menyembelih kambing jantan (tragos) agar dewa Zeus berkenan menurunkan hujan di daerah yang dilanda kemarau panjang. Sekalipun yang dinikahkan seekor kucing, masyarakat Pacitan menyebut dua ekor kucing yang dinikahkan itu dengan istilah “penganten” (Jawa: manten).
1 comment

Upacara Ceprotan


“CEPROTAN” MENJADI IDOLA WISATA TRADISIONAL PACITAN
Kita mendengar sebutan Pacitan, mungkin benak pikiran kita hanya terpancang pada dampak negatifnya bahwa Kota Pacitan merupakan kota yang tandus dan terpencil dibanding dengan Daerah Tingkat II yang lain di Propinsi Jawa Timur ini.
Namun dibalik semua itu Kabupaten Daerah Tingkat II Pacitan, telah menyimpan banyak potensi yang cukup handal seperti halnya industry kerajinan batu akik, hasil perkebunan buah jeruk yang sudah dikenal dengan jeruk Pacitannya. Lebih dari itu potensi-potensi pariwisata yang dimiliki oleh kabupaten ini cukup banyak jumlahnya  dan sangat menarik obyek wisatanya.
Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya wisatawan mancanegara yang mondar-mandir di Kota Pacitan manpun ditempat-tempat obyek wisata, bahkan tak j arang pula wisatawan manca Negara tersebut yang menyempatkan untuk bermalam sekaligus menikmati suasana malam di Kabupaten Pacitan yang terpencil.
Kabupaten Paeitan, memang merupakan salah satu pintu masuk wisatawan yang cukup potensial, khususnya para wisatawan dari Wonogiri Solo Jawa Tengah. Satu hal yang menjadi kendala bagi wisatawan setelah menikmati berbagai obyek-obyek wisata di Kabupaten Pacitan, mereka umumnya enggan untuk melanjutkan perjalanan ke kabupaten-kabupaten lain yang terdekat dengan Pacitan, karena jaraknya yang terlalu jauh dan tanpa didukung obyek wisata. Untuk itulah maka wisatawan mancanegara lebih senang setelah menikmati keindahan Pacitan, kembali lewat Wonogiri menuju Solo untuk melanjutkan perjalanan ke obyek wisata lain sesuai dengan selera.
UPACARA TRADISIONAL CEPROTAN
Wisata budaya berupa upacara tradisional Ceprotan, nampaknya sudah menjadi idola bagi masyarakat Pacitan, bahkan banyak pula wisatawan dari luar Kabupaten yang datang untuk menyaksikan jalannya upacara tradisional Ceprotan tersebut.
Upacara tradisional Ceprotan ini biasanya diselenggarakan pada hari Senin Kliwon, jika tidak ada hari Senin Kliwon pada bulan itu diadakan pada hari Minggu Kliwon bulan Longkang bertempat di desa Sekar Kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan. Untuk penyelenggaraan upacara tradisional Ceprotan pada tahun ini jatuh pada tanggal 1 Mei 1994 ditempat yang sama dan dimulai pada pukul 16.00 WIB.
Lokasi upacara Ceprotan ini terletak didaerah perbatasan dengan Wonogiri, atau sekitar 40 km arah barat daya dari Kota Pacitan, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum dengan memakan waktu hampir satu setengah jam.
Upacara tradisional Ceprotan, dimaksudkan untuk mengenang sejarah kehidupan Kyai Godeg dan Dewi Sekartaji dari kerajaan Kediri yang menurut masyarakat desa Sekar merupakan orang yang pertama yang bertempat tinggal I cikal bakal didesa Sekar Kecamatan Donorejo Kabupaten Pacitan.
Mulai saat itulah Kyai Godeg membuat desa Sekar setiap hari Senin Kliwon bulan Dulkangidah /Longkang diadakan bersih desa yang sekaligus sebagai ulang tahun I hari jadi desa Sekar dengan diadakan Upacara Adat Ceprotan dengan kelapa muda untuk mengingat asal usul desa Sekar.
Tidak jauh dari lokasi upacara tersebut, tepatnya didesa Tabuhan wisatawan dapat pula menikmati wisata alam berupa gua dengan sebutan Gua Tabuhan, di gua ini kita dapat menanggap gamelan/tabuhan dari batu-batuan didalam gua dengan harus mengeluarkan uangsebesar Rp 15.000, belum termasuk sewa lampu untuk menikmati keindahan didalam gua yaitu sebesar Rp 1.000,-. Di tempat ini pula ada kios-kios souvenir khas Pacitan khususnya batu akik.
Selain itu pula, bagi wisatawan sebelum menuju desa Sekar untuk menyaksikan upacara tradisional Ceprotan khususnya yang berangkat dari Kota Pacitan pada pagi hari. Sayang rasanya jika tidak mampir terlebih dahulu, ke obyek wisata pantai yang sangat dekat dengan kota sekitar 3 Km, yaitu wisata alam pantai Teleng Ria yang cukup indah serta masih alami, yang dihiasi dengan pepohonan kelapa yang masih kecil dan hiruk pikuknya nelayan mendaratkan ikannya, dari kota kita dapat naik dokar/saldo maupun kendaraan lain. Di lokasi ini pula lengkap dengan fasilitas kolam renang, tempat bemain untuk anak, serta penginapan yang memadai.
Berdekatan dengan pantai Teleng Ria terdapat  pantai lain yang sudah dikenal pula yaitu wisata pantai Tamperan, di pantai ini wisatawan dapat berbelanja ikan segar di Tempat Pelelangan ikan (TPI), serta kios makanan khas Tiwul yangkini sangat sulit kita jumpai. (Agus Dm).
No comments

Pacitan Menjadi Geopark Dunia

Pacitan Geopark
Kondisi geologi dan peninggalan purbakala di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, bakal dinilai tim United Nation Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) untuk dimasukkan dalam Global Geopark Network. Struktur geologi dan peninggalan purbakala di Pacitan akan dinilai tim dari UNESCO pada 7-9 Juni nanti. Asset yang dinilai tersebut berupa pegunungan, perbukitan, goa, pantai, sungai, telaga, dan ladang serta benda-benda peninggalan purbakala peninggalan sejarah. Struktur geologi dan benda peninggalan purbakala itu jika memenuhi syarat akan dimasukkan dalam aset geopark dunia. Benda-benda itu terutama tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Donorojo, Punung, Pringkuku, dan sebagian daerah Kota Kecamatan.

Pemerintah Daerah setempat menggolongkan kawasan tersebut sebagai kawasan yang mengandung karst (bentukan permukaan bumi) kelas I. Sedangkan karst kelas II tersebar di kecamatan lain seperti Kecamatan Tulakan, Kebonagung, Sudimoro, Ngadirojo, dan Tegalombo. Disparbudpora mencatat ada 35 geosite (situs geologi) di Pacitan yang bersejarah dan kaya akan struktur geologi. Dari 35 geosite yang diajukan, ada 10 geosite yang akan dinilai tim UNESCO. Sepuluh geosite tersebut berupa:

1. Karst di Pancer Door (sebelah timur kawasan wisata Pantai Teleng Ria di Kelurahan Sidoharjo, Kecamatan Pacitan).

2. Karst di Tamperan Gung (perbukitan yang berada di kawasan Pantai Tamperan, Desa Tamperan, Kecamatan Pacitan).

3. Karst di Tamperan Atas (perbukitan yang berada di kawasan Pantai Tamperan, Desa Tamperan, Kecamatan Pacitan).

4. Karst di Pantai Klayar (Desa Sendang, Kecamatan Donorojo).

5. Stalaktit dan stalakmit di Goa Gong (Desa Bomo, Kecamatan Punung).

6. Stalaktit dan stalakmit di Goa Tabuhan (Desa Wareng, Kecamatan Punung).

7. Stalaktit dan stalakmit di Goa Song Terus (Desa Wareng, Kecamatan Punung).

8. Sedimentasi di Telaga Guyang Warak (Kecamatan Punung).

9. Sungai Bak Soka (Kecamatan Punung).

10. Artefak peninggalan purbakala (Dusun Ngrijang, Desa Sekar, Kecamatan Donorojo).

Selain Pacitan, tim UNESCO juga akan menilai kekayaan geologi di Gunung Batur, Bali. Sebelumnya, Kementarian Kebudayaan dan Pariwisata sudah mensosialisasikan rencana penilaian tim UNESCO. Fungsi dari aset geologi itu bisa jadi wadah untuk pendidikan geologi, sejarah, sekaligus tempat pariwisata. Dan tentunya dengan kabar ini, semoga mampu mengangkat dan mendukung kesuksesan pembangunan di Pacitan.

Referensi :
http://www.pacitankab.go.id/
No comments

Wayang Beber (Wayang Terpanjang Di Dunia)

Satu lagi kekayaan budaya Kabupaten Pacitan mendapat pengakuan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Wayang beber sepanjang 82 meter dan lebar 110 sentimeter dinyatakan memecahkan rekor dunia sekaligus menumbangkan rekor yang sama milik DI Yogyakarta sepanjang 49 meter lebar 90 sentimeter.Manajer MURI, Sri Widayati usai menyerahkan sertifikat penghargaan di Pendopo Kabupaten Pacitan, Sabtu (14/7) mengatakan, selain ukurannya yang relatif panjang, penganugerahan juga diberikan karena nilai sejarah karya seni tersebut. Wayang beber, lanjut perempuan yang sudah beberapa kali ke Bumi Kelahitan SBY, merupakan peninggalan sejarah yang hampir punah. 
Atas inisiatif anggota DPR RI Edhie Bhaskoro Yudhoyono didukung Bupati Indartato dan Pemerintah Kabupaten Pacitan sebagai penyelenggara, replika dari maha karya zaman Majapahit tersebut berhasil diselesaikan. Pengerjaannya sendiri membutuhkan waktu 20 hari dengan melibatkan 7 seniman dari Sanggar Lung, Pacitan.
Untuk diketahui, Wayang Beber merupakan lukisan berangkai dengan urutan cerita di dalamnya. Pementasannya dilakukan dengan cara dibeberkan. Sedangkan sang dalang bertutur dari balik gulungan layer sebanyak 24 adegan.
Wayang beber Pacitan yang merupakan peninggalan masa kejayaan Prabu Brawijaya menceritakan tentang kisah cinta Dewi Sekartaji dan Panji Jaka Kembang Kuning. Fiksi romantika tersebut pada dahulu kala hanya dipentaskan
No comments